False nine musim ini cukup familiar di kalangan para pesepakbola
dunia. Era kepopuleran false nine kembali hidup di tengah para penikmat
sepakbola modern. Tidak ingin ketinggalan negara Indonesia pun melakukan
hal yang sama tak ayal banyak tim yang melakukan strategi ini demi
menambah variasi serangannya.
www.goal.com Timnas Spanyol
Musim
ini false nine paling cocok dimainkan oleh Timnas Spanyol dan Barcelona
yang nampak paling sukses menjalankannya dengan berhasil meraih
kemenangan besar usai mereka melakukan strategi ini, false nine dalam
pertandingan memang cukup baik apalagi si pemain bisa leluasa bergerak
ketimbang mengandalkan striker murni.
Posisi ini bisa mencontoh
dari berhasilnya seorang Messi dalam menjalankan peran yang musim ini ia
coba peragakan kembali selepas era Pep Guardiola. Saat itu Messi
berhasil mencetak brace pada saat Barcelona jumpa Alaves. Berbicara soal
false nine ini ternyata banyak yang masih salah kaprah dalam menganggap
False nine itu apa.
Termasuk di Indonesia istilah false nine itu
selalu salah di artikan padahal false nine itu sendiri memiliki banyak
arti yang bukan hanya jika di artikan dari ejaan kata bahasa inggrisnya
saja penyerang bohongan padahal bukanlah itu arti kata sebenarnya.
Banyak
yang menyangka bahwa istilah false nine itu adalah penyerang palsu di
mana seorang gelandang yang di tempatkan sebagai penyerang. Namun bukan
itu ternyata justru banyak yang salah kaprah oleh ulah komentator di
Indonesia yang menyebut jika peran false nine seperti itu.
Anda masih ingat dengan laga Liga 1 yang mempertemukan antara Persib Bandung menghadapi
Bhayangkara FC akhir September lalu?
Sedikit
flashback dan kita coba untuk meluruskan apa arti dari false nine itu.
Kala itu komentator pertandingan berulang kali menyebutkan bahwa Raphael
Maitimo bermain sebagai false nine seperti dikutip dari
panditfootball.com (6/10/2017).
Padahal itu semua sudah salah
kaprah dan tentu banyak yang terkecoh dengan pernyataan dari komentator
itu. Raphael Maitimo itu bermain sebagai penyerang lantaran penyerang
andalan Persib, Ezechiel Ndouassel, absen karena akumulasi kartu.
Maitimo sendiri biasanya ditempatkan sebagai gelandang pada pertandingan
sebelumnya.
Rupanya anggapan Maitimo sebagai false nine itu
sebenarnya kurang tepat. Hal ini dikarenakan pada kenyataannya dari gaya
bermain Maitimo itu sendiri sangat jauh dari apa yang diungkapkan oleh
sang komentator bisa kita lihat dari cara bergerak dengan maupun tanpa
bola ia tetap bermain sama halnya seperti Ezechiel seorang target man.
Gaya
bermainnya sama saja dengan Ezechiel dia tidak ada bedanya sama sekali,
dan tentu melihat itu semua bisa di asumsikan jika penampilan dari
Maitimo sama saja dengan sosok striker murni bukanlah seorang false nine
yang selama ini banyak di bicarakan.
Mari kita belajar untuk
mengetahui lebih dekat apa itu false nine sebenarnya agar tidak salah
kaprah lagi dalam penerapannya. Bisa kita lihat peran false nine
sesungguhnya yang benar sudah diperagakan oleh Fabregas saat dia berada
di Timnas Spanyol dan peran Lionel Messi yang berada di Barcelona mereka
berdua terbilang cukup sukses memainkan peran tersebut.
Sebenarnya
false nine itu sendiri lahir pada tahun 1930 an saat itu adalah
Danubian School di Austria yang pertama kali menggunakannya. Danubian
School yang dilatih Hugo Meisl pada waktu itu dia menggunakan pola dasar
2-3-5 dengan penyerang tengah no.9. bisa anda lihat skemanya pada bagan
berikut:
www.gilabola.com Skema false nine
Coba
anda perhatikan dari bagan no.7, 8, 10 dan 11 merupakan para pemain
menyerang namun sosok false nine sesungguhnya berada pada nomor 9 yang
di tarik sedikit di belakang.
Dan di era modern ini peran false
nine kembali populer ketika masuk tahun 2006/2007. Orang tersebut Adalah
Luciano Spalletti yang saat itu menukangi AS Roma dengan gaya false
nine. Ia memainkan Francesco Totti yang biasanya bermain sebagai
gelandang serang dan pengatur serangan menjadi penyerang dalam formasi
dasar 4-1-4-1 pada saat itu, dan tugas Totti sendiri adalah untuk
memancing diantara bek tengah untuk membuka ruang. Kita juga tahu jika
Totti merupakan pemain yang sangat sukses dalam hal false nine pada saat
itu.
Hasilnya peran Totti pada saat itu Ia mencetak 32 gol dalam
satu musim, membuatnya meraih gelar top skor Serie A dan Sepatu Emas
buah dari eksperimen Spalletti. Selain Spalletti ada juga Guardiola yang
sukses dengan false nine kala menukangi Barcelona pada saat itu.
Guardiola
sukses melakukan perannya dengan baik, Ketika itu, ia memanfaatkan
seorang pemuda berusia 21 tahun siapa lagi kalau bukan Lionel Messi yang
menjadi otak serangan Barca pada laga yang berakhir dengan skor 6-2
saat itu mereka berhasil menumbangkan Real Madrid.
Saat itu ada
dua area kosong yang sukses di manfaatkan Pep dalam false nine yang ia
terapkan. Area tersebut terletak di antara dua bek tengah Madrid dan dua
gelandang tengah Madrid. Dan dari hal itu menjadi awal mula
terbentuknya istilah "Messi Zone".
www.panditfootball.com messi zone
Seorang false nine sesungguhnya
tidak
banyak bermain di area kotak penalti layaknya penyerang klasik.
Melainkan tampak seperti seorang gelandang serang yang punya visi, daya
jelajah, teknik (umpan maupun dribel) dan kreasi serangan. Jadi bukan
sembarang Pemain yang mampu memainkan peran ini.
Maka dari itu
jangan anggap tugasnya itu mudah, apalagi jika seorang pemain biasa yang
hanya di kait-kaitkan dengan peran false nine, justru peran itu bukan
hal yang mudah di lakukan dan tidak hanya mencetak gol, ia juga harus
menciptakan ruang bagi dirinya sendiri maupun rekan setim.
Jadi
sudah cukup jelas kan maksud dari false nine sebenarnya itu apa? Maka
jangan terkecoh lagi dengan Komentator yang kerap menyebut false nine
padahal bukan posisi itu sebenarnya.
Sumber :
http://tz.ucweb.com/10_1cpcp